Tips Presentasi Hasil Riset

4 04 2008

Satu hal yang tak kalah penting dibandingkan dengan penyusunan laporan akhir adalah mempresentasikan hasil dari riset itu sendiri. Seringkali pihak klien meminta periset mempresentasikan hasil risetnya, bahkan adakalanya kepada pihak media massa atau masyarakat umum apabila isi riset terkait informasi publik. Baik tidaknya periset mempresentasikan hasil riset dapat mempengaruhi diterima tidaknya sebuah hasil riset. Pihak klien bisa meragukan isi penelitian apabila periset kurang meyakinkan dalam mempresentasi laporan akhir, meski reliabilitas dan validitas hasil riset baik secara metodologi. Sehingga penting sekali, periset mempersiapkan diri saat akan mempresentasikan hasil riset. Read the rest of this entry »



Riset STP

2 04 2008

Bangunan riset yang kokoh didirikan dari fondasi dan kerangka yang kuat, dan sebaliknya, bangunan riset yang rapuh didirikan dari fondasi dan kerangka yang lemah. Fondasi riset pemasaran adalah landasan konseptual pemasaran itu sendiri. Dan kerangka riset adalah desain riset berdasar kasus pemasaran yang dihadapi. Fondasi dan kerangka saling memperkuat dan menjadi kesatuan yang tak terpisahkan. Dengan kata lain, desain riset pemasaran yang bagus mengacu pada konsepsi pemasaran yang tepat. Beragam buku pemasaran saat ini memunculkan sudut pandang yang beragam pula untuk memahami konsepsi pemasaran sebagai acuan riset. Salah satu konsepsi pemasaran modern adalah STP (Segmentation, Targeting, Positioning).

Read the rest of this entry »



Teknik Bertanya dalam Riset Kualitatif

2 04 2008

Keterampilan yang penting dimiliki periset sebagai moderator dalam FGD atau sebagai interviewer dalam in depth interview adalah kemampuan bertanya. Dengan keterampilan bertanya yang baik, periset khususnya dalam riset kualitatif dapat mengeksplorasi dan menemukan informasi penting sesuai kebutuhan dari tujuan riset. Beberapa teknik bertanya yang sering digunakan antara lain: teknik probing, teknik why-why questions, atau teknik what-if.

Teknik probing dilakukan untuk mendapatkan jawaban yang lebih detil dari responden. Periset bertanya tentang suatu hal kepada responden, setiap jawaban yang keluar difokuskan untuk ditanyakan beruntun hingga detil jawaban tergali. Berikut contoh periset (=T) bertanya kepada responden (=J) mengenai kebiasaannya mengkonsumsi mie instan dengan teknik probing:

Read the rest of this entry »



Tabulasi Data

2 04 2008

Sebelum melakukan analisa data, dilakukan terlebih dahulu tahapan pra analisa data berupa penyuntingan, verifikasi, dan tabulasi data. Pasca pengumpulan data di lapangan merupakan proses memasuki tahapan pra analisa. Tabulasi data biasanya memang tidak dimasukkan dalam prosedur analisa data riset, karena belum mengungkapkan hubungan data hasil riset. Namun sedikitnya tabulasi data ini dapat menyajikan pra analisa berupa ukuran deskriptif masing-masing variabel pengamatan. Tahapan awal pra analisa, data hasil survey yang telah dicek oleh supervisor lapangan di-entry pada program komputer. Dahulu sebelum program komputer berkembang, data hasil survey dikumpulkan dan dianalisa secara manual. Tentunya ini akan merepotkan untuk survey yang melibatkan banyak responden.

Proses entry atau pengetikan/pemasukan data secara sederhana dapat menggunakan program MS Excel atau langsung pada program aplikasi statistik seperti SPSS, Minitab, STATA, atau Lisrel. Namun khusus program aplikasi statistik tersebut, data harus dikodifikasi (data coding) secara numerik terlebih dahulu agar dapat dianalisa. Gambar berikut menampilkan tahapan yang perlu dilakukan proses pra analisa: Read the rest of this entry »



Focus Group Discussion (2)

2 04 2008

FGD lebih jauh dapat dikembangkan dan dioptimalisasikan bagi riset-riset penting pemasaran. Edward F. Fern dalam bukunya, Advanced Focus Group Research (2001), menuliskan FGD dapat difungsikan dalam tiga tugas utama, yakni: exploratory, clinical, dan experiential. Tugas exploratory focus group adalah menciptakan, mengumpulkan, mengidentifikasi, menemukan, menjelaskan, dan mendapatkan gagasan, perasaan, dan perilaku.

Tugas experiental focus group dapat memberikan kesempatan para pengambil keputusan untuk mengamati “perilaku alami” dari peserta FGD yang ditetapkan sebagai “wakil” populasi. Perilakunya ini dimanifestasikan melalui: berbagi pengalaman hidup, berbagi preferensi, maksud dan tujuan, serta perilaku. Sedangkan tugas clinical focus group secara lebih luas digunakan untuk melihat akibat atau dampak penerapan suatu kebijakan pemasaran. Pendekatan ini dikenal juga sebagai group depth interview atau group dynamic. Read the rest of this entry »



Focus Group Discussion (1)

2 04 2008

Focus Group Discussion atau FGD merupakan jenis riset kualitatif yang cukup populer dalam riset pemasaran. Tujuan penggunaan FGD sendiri tidak jauh berbeda dengan tujuan riset kualitatif secara keseluruhan. Namun dibanding teknik riset kualitatif yang lain, FGD memiliki kelebihan dalam mengeksplorasi suatu kelompok responden.

Beberapa keunggulan FGD antara lain:

  • Riset dapat diadakan secara cepat;
  • Saat responden tidak dipaksa untuk menjawab pertanyaan, mereka akan memberikan pikiran dan jawaban serius;
  • Responden mudah angkat bicara karena tidak ada perbedaan di antara mereka;
  • Suasana kelompok akan membantu men-stimulus responden untuk bicara;
  • Terjadi efek simultan, saat responden berpendapat maka yang lain akan ikut berkomentar;
  • Sinergi diciptakan oleh kelompok.

Read the rest of this entry »



Tahapan Riset Pemasaran

2 04 2008

Riset pemasaran merupakan sebuah penelitian ilmiah yang sudah pasti harus dipertanggung jawabkan secara ilmiah pula. Keilmiahan sebuah riset dapat dilihat dari sistematika dan landasan metodologi dalam alur pengerjaannya. Meninggalkan tahapan metodologi sama halnya menganalisa dalam kerangka pijakan yang lemah dan sudah pasti merencanakan sebuah hasil kesimpulan yang bias. Lebih jauh, mengadopsi konsep-konsep pemasaran modern akan membantu mempermudah membedah suatu kasus pemasaran. Pemahaman terhadap konsep pemasaran dan metodologi riset yang matang menjadi tulang punggung dalam menyelesaikan kasus-kasus yang rumit atau kompleks.

Secara praktis ada lima langkah utama dalam riset pemasaran, yakni pertama adalah merumuskan tujuan riset itu sendiri dari masalah atau peluang pemasaran. Langkah awal ini akan membantu pijakan selanjutnya dalam penentuan desain riset yang tepat. Dalam mendesain riset juga ditentukan metode dan teknik pengambilan datanya. Apakah menggunakan jenis riset kuantitatif, kualitatif, atau desk research. Setelah desain ditentukan selanjutnya dilakukan pengumpulan data, baik data primer di lapangan maupun data sekunder. Data atau informasi yang diperoleh tersebut kemudian dilakukan proses analisa yang nantinya dibuat kesimpulan berupa laporan akhir hasil riset. Read the rest of this entry »



Jenis Riset Pemasaran

2 04 2008

Berdasarkan tujuannya, riset pemasaran dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok, meski dimungkinkan adanya kombinasi. Pertama, Problem Solving Research, yakni riset yang diadakan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah-masalah pemasaran. Riset ini memang berorientasi pada masa lalu, berupa masalah pemasaran yang pernah terjadi. Namun dengan mengidentifikasi masalah yang telah terjadi dan mendapatkan solusinya merupakan investasi untuk tidak mengulanginya di masa yang akan datang. Read the rest of this entry »



Pendekatan Intuisi atau Riset? (2)

2 04 2008

Sementara itu pendekatan riset pasar bertumpu pada informasi atau fakta pasar yang dikumpulkan. David Ogilvy dalam bukunya, Ogilvy on Advertising, mengungkapkan ada sepuluh hal yang dapat diperoleh riset untuk memberikan analisa strategis, yakni:

  1. Riset terkadang dapat memperoleh ide produk baru dari konsumen potensial. Tetapi persepsi konsumen tersebut sangat dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya, sehingga berlebihan mengharapkan muncul ide yang revolusioner.

Read the rest of this entry »



Pendekatan Intuisi atau Riset? (1)

2 04 2008

Abdullah, pengusaha pemula, mengamati strategi pemasaran dari sebuah lembaga pendidikan yang banyak miliki siswa, membuat paket pelatihan bervariasi dengan biaya yang murah. Kemudian ia menanyakan hasil pengamatannya kepada beberapa teman dekatnya. Teman pertama mengatakan, “banyak orang tahu bahwa produk yang dibuat banyak dan murah sudah pasti akan laku”. Sedangkan teman kedua memberikan saran mengutip tulisan di buku pemasaran dan apa yang diajarkan dosen-nya, bahwa harga murah akan mempengaruhi peningkatan penjualan.

Kemudian Abdullah membacakan hasil penelitian bahwa harga murah dapat juga mempengaruhi penurunan penjualan. Teman ketiga membantahnya, ”Penelitian itu diragukan, sudah sangat jelas dalam bisnis itu harga murah akan meningkatkan penjualan!”. Terakhir teman keempat berpendapat, perlu pengamatan lebih mendalam, apakah banyaknya siswa dari lembaga pendidikan itu dikarenakan biayanya yang murah atau karena ada faktor lain. Read the rest of this entry »